PENGORGANISASIAN MASYARAKAT


Defenisi

Adalah suatu proses di masyarakat dapat mengidentifikasikan kebutuhan-kebutuhan dan menentukan prioritas dari kebutuhan-kebutuhan tersebut, dan mengembangkan keyaknan untuk berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan skala prioritas berdasarkan atas sumber-sumber yang ada di masyarakat endiri maupun yang berasal dari luar,dengan usaha secara gotong royong.

Pada pengertian tersebut di atas ada 3 aspek penting yang terkandung di dalamnya:

1. Proses

a. Merupakan proses yang terjadi secara sadar, tetapi mungkin pula tidak.

b. Jika proses disadari,berarti masyarakat menyadari adanya kebutuhan

c. Dalam prosesnya ditemukan unsur-unsur kesukarelaan, kesukarelaan timbul karena adanya kebutuhan sehingga mengambil inisiatif atau prakarsa untuk mengatasinya.

d. Kesukarelaan terjadi karena dirongan untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan kelompok atau masyarakat.

e. Kesadaran terhadap kebutuhan dan masalah yang dihadapi biasanya ditemukan pada segelintir orang saja yang kemudian melakukan upaya menyadarkan masyarakat untuk mengatasinya.

f. Selanjutnya menginstruksikan kepada masyarakat untuk bersama-sama mengatasinya.

2. Masyarakat, diartikan sebagai kelompok besar yang mempunyai :

a. Batas-batas geografis

b. Suatu kelompok dari mereka yang mempunyai kebutuhan bersama dari kelompok yang lebih besar

c. Kelompok kecil yang menyadari masalah harus dapat menyadarkan kelompok yang lebih besar.

d. Secara bersama-sama mereka mencoba mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhannya.

3. Memfungsikan masyarakat, untuk dapat memfungsikan masyarakat, maka harus dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Menarik orang-orang yang mempunyai inisiatif dan dapat bekerja untuk membentuk kepanitiaan yang akan menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat.

b. Menyusun rencana kerja yang dapat diterima dan dilaksanakan oleh keseluruhan masyarakat

c. Melakukan upaya penyebaran rencana agar masyarakat dapat menyebarkan rencana tersebut.

Persyaratan Petugas

Untuk menentukan persyaratan seseorang sebagai community worker atau sebagai seorang promotor kesehatan desa (Promokesa), harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut :

1. Mampu menggunakan berbagai pendekatan kepada masyarakat sehingga dapat menarik kepercayaan masyarakat.

2. Mampu mengajak masyarakat untuk bekerja sama serta membangun rasa saling percaya antara petugas dan masyarakat.

3. Mengetaudengan baik sumber daya dan sumber alam yang ada di masyarakat, yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan memecahkan permasalahan mereka.

4. Mampu berkomonikasi secara baik dengan masyarakat menggunakan metoda dan teknik komonikasi yang disesuaikan dengan keadaan masyarakat sehingga informasi dapat di mengerti dan dilaksanakan oleh masyarakat.

5. Mempunyai kemampuan profesional dalam berhubungan dengan masyarakat baik formal leader maupun informal leader.

6. Mempunyai pengetahuan tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kkeadaan lingkungannya.

7. Mempunyai pengetahuan dan keterampilan tentang kesehatan dan keperawatan yang dapat diajarkan kepada masyarakat.

8. Mengetahui dionas-dinas terkait dan tenaga ahli yang ada diwilayah tersebut untuk dimintakan bantuan keikutsertaannya dalam memecahkan masalah masyarakat dan memenuhi kebutuhan mereka.

Pendekatan

1. Spesifik Content Objektive Approach

Adalah pendekatan baik perseorangan (promotor kesehatan desa), lembaga swadaya atau badan tertentu yang merasakan adanya masalah kesehatan dan kebutuhan dari masyarakat akan pelayanan kesehatan mengajukan suatu proposalatau program kepada instansi yang berwenang untuk mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. Misalnya program penanggulangan sampah.

2. General Content Objektive Approach

Adalah pendekatan yang mengkoordinasikan berbagai upaya dalam bidang kesehatan dalam suatu wadah tertentu. Misalnya program pos pelayanan terpadu yang melaksanakan 5 sampai 7 upaya kesehatan yang dijalanakan sekaligus, seperti KIA, KB, gizi, imunisasi, penanggulangan diare, penyediaan air bersih, dan penyediaan obat-obat esensial

3. Process Objektive Approach

Adalah pendekatan yang lebih menekankan kepada proses yang dilaksanakan oleh masyarakat sebagai pengambil prakarsa, mulai dari mengidentifikasi masalah, analisa, menyusun perencanaan penaggulangan masalah, pelaksanaan kegiatan sampai dengan penilaian dan pengembangan kegiatan, di mana masyarakat sendiri yang mengembangkan kemampuannya sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki. Dan yang dipentingkan dalam pendekaan ini adalah partsipasi masyarakat atau peran serta masyarakat dalam pengembangan kegiatan.

Tahap-Tahap Pengorganisasian Masyarakat

Adi Sasongko, 1978 menyebutkan langkah-langkah dalam pengeroganisasian masyarakat sebagai berikut :

1. Persiapan sosial

a. Pengenalan masyarakat

b. Pengenalanmasalah

c. Penyadaran masyarakat

2. Pelaksanaan

3. Evaluasi

4. Perluasan

Langkah-langkah yang dikemukakan tersebut diatas dapat digunakan untuk praktek perawatan kesehatan masyarakat di suatu wilayah binaan, sebagai berikut :

1. Persiapan Sosial

Dalam praktek perawatan kesehatan tujuan persiapan sosial adalah mengajak partisipasi atau peran serta masyarakat sejak awal kegiatan selanjutnya sampai dengan perencanaan program, pelaksanaan hingga pengembangan program praktek perawatan kesehatan masyarakat. Kegiatan-kegiatan dalam persiapan sosial ini lebih ditekankan kepada persiapan-persiapan yang harus dilakukan baik aspek teknis, administratif dan program-program kesehatan yang akan dilaksanakan.

Pengenalan masyarakat, Tahap pengenalan masyarakat dapat dilakukan melalui jalur formal (informal leader), sebagai pihak yang bertanggung jawab secara tekni administratif dan birokratif suatu wolaya yang akan dijadikan daerah binaan. Pendekatan terhadap informal leader umumnya melalui pemerintahan setempat yang bertanggungjawab terhadap wilayah tersebut dan pusat kesehatan masuarakat (puskesmas) atau instansi terkait yang bertanggung jawab dalam bidang kesehatan masyarakat. Pendekatan ini didahului melalui surat permintaan daerah binaan yang akan dijadikan lahan praktek dilengkapi dengan proposal rencana pembinaan suatu daerah binaan.

Setelah ada persetujuan dari instansi terkait yang menangani kegiatan tersebut, langkah selanjutnya yang harus ditempuh adalah mengadakan pendekatan terhadap tokoh-tokoh informal yang ada diwilayah tersebut. Diantaranya adalah tokoh-tokoh masyarakat seperti sesapuh, pemika agama, guru, tokoh pemuda, dll. Hal ini untuk mendapatkan dukungan dalam pelaksanaan kegiatan yang akan dijalankan. Tanpa bantuan tokoh-tokoh informal kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan sulituntik mencapai hasil yang maksimal. Seperti kita ketahui tokoh-tokoh informal dalam masyarakat pada umumnya merupakan panutan dari masyarakat secara keseluruhan dan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kegiatan masyarakat secara keseluruhan.

Oleh karena itu peugas datang ketengah-tengah masyarakat dengan hati yang terbuka dan kemauan serta keinginan untuk lebihmengenal masyarakat sebagai mana adanya sambil menyampaikan maksud dan tjuan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam melaksanakan pembinaan perawatan kesehatan masyarakat.

Pendekatan tokoh-tokoh informal hendaknya lebih ditujukan kepada PKMD/LKMD, PKK, Kader kesehatan dan dasa wisma atau promotor kesehatan desa yang berkaitan erat dengan pemeliharaan dan perawatan kesehatan nmasyarakat.

Hal ini penting dilakukan karena masyarakat Indonesia masih paternalistik, dengan dikenalnya pemeimpin-pemimpin masyarakat formal dan informal, diharapkan penyebaran gagasan dan kegiatan mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat, sehingga mereka berpartisipasi secara penuh dalam kegiatan tersebut.

Pengenalan Masalah

Untuk dapat mengenal masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh yang benar-benar menjadi kebutuhan msyarakat pada saat ini, diperlukan interaksi dan intelarasi dengan masyarakat setempat secara mendalam. Hal ini dapat dilakukan melalui survei kesehatan masyarakat dalam ruang lingkup terbatas. Sehingga masalah-masalah yang dirumuskan benar-benar masalah yang menjadi kebutuhan masyarakat setempat. Oleh karena itu keterlibatan masyarakat mulai saat ini sangat diperlukan, sehingga mereka menyadari sepenuhnya masalah yang mereka hadapi dan mereka sadar bagaimana cara mengatasi masalah tersebut, dan hal ini sangat menentukan keberhasilan program perawatan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Dalam tahap ini mungkin ditemukan banyak masalah-masalah kesehatan masyarakat yang sangat beragam diantaranya masalah gizi masyarakat, keluarga berencana, pelayanan kesehatan ibu dan anak, imunisasi dan sebagainya. Agar masalah tersebut dapat di atasi secara baik, maka perlu dilakukan menyusun skala prioritas penanggulangan masalah bersama-sama masyarakat formal dan informal.

Penyadaran masyarakat

Tujuan tahap ini adalah menyadarkan masyarakat agar mereka:

1) Menyadari masalah-masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi.

2) Secara sadar mereka mau ikut berpartisipasi dalam kegiatan penanggulangan masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi.

3) Mereka tahu cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan akan upaya pelayanan kesehatan dan keperawatan sesuai dengan potensi dan sumber daya yang ada pada mereka.

Agar masyarakat dapat menyadari masalah dan kebutuhan mereka akan pelayanan kesehatan dan keperawatan diperlukan suatu mekanisme yang terencana dan terorganisasi dengan baik, seperti kita ketahui berbagai istilah yang sering dipergunakan dalam rangka menyadarkan masyarakat yaitu:

1) Loka karya mini kesehatan

2) Musyawarah masyarakat desa

3) Rembuk desa.

Hal ini dilakukan untuk menyadarkan, membicarakan langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penanggulangan masalah, penyusunan program kegiatan yang menyangkut, petugas, biaya, dan sarana dan prasarana serta bentuk-bentuk kerjasama lintas sektoral dari instansi terkait maupun lintas program, sehingga jelas peranan-peranan yang harus dilaksanakan oleh masing-masing pihak yang berkepentingan dalam mencapai tujuan masyarakat yang lebih luas.

Hal-hal yang dapat perhatian dalam penyadaran masalah adalah:

1) Libatkan masyarakat secara keseluruhan baik formal maupun informal, sehingga mereka sadar bahwa itu adalah masalah mereka yang perlu segera diatasi.

2) Dalam menyusun rencana penanggulangan masalah sesuaikan dengan potensi dan sumber yang ada pada masyarakat.

3) Hindari konflik dari berbagai kepentingan dalam masyarakat.

4) Kesadaran dari kelompok-kelompok kecil masyarakat hendaknya disebarkan kepada kelompok masyarakat yang lebih luas.

5) Adakan interaksi dan intelerasi dengan tokoh-tokoh masyarakat secara intensif dan akrab, sehingga mereka dapat dimanfaatkan untuk usaha motivasi, komunikasi sehingga dapat menggugah kesadaran masyarakat.

6) Dalam mengatasi sifat-sifat paternalistik masyarakat dapat memanfaatkan jalur kepemimpinan masyarakat setempat dalam mendapatkan legimitasi dari pihak pemerintah setempat untuk mempercepat kesadaran masyarakat.

2. Pelaksanaan

Setelah rencana penanggulangan masalah disusun dalam ini lokakarya, atau dalam musyawarah masyarakat desa, maka langkah-langkah selanjutnya melaksanakan kegiatan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Dalam beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam pelaksanaan kegiatan sesuai dengan perancanaan yang telah disusun. Dan beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam pelaksanaan kegiatan penaggungan masalah kesehatan masyarakat adalah:

1) Pilihlah kegiatan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

2) Libatkan peran serta masyarakat secara aktif dalam upaya penanggulangan masalah

3) Kegiatan disesuaikan dengan kemampuan, waktu dan sumber daya yang tersedia dimasyarakat.

4) Tumbuhka rasa percaya diri masyarakat bahwa mereka mempunyai kemampuan dalam penanggulangan masalah.

3. Evaluasi

Penilaian dapat dilakukan setelah pelaksanaan dalam jangka waktu tertentu. Dalam melakukan penilaian dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu :

1) Selama kegiatan berlangsung disebut juga penilaian formatif, penilaian ini dilakukan untuk melihat apakah pelaksanaan kegiatan yang dijalankan sesuai perencanaan penangguhan masalah yang disusun. Penilaian semacam ini juga dapat disebut monitoring. Sehingga dapat diketahui perkembangan hasil yang dicapai.

2) Setelah program selesai dilaksanakan, disebut juga penilaian sumatif, penialaian ini dilakukan setelah melalui jangka waktu tertentu dari kegiatan yang dilakukan, atau disebutkan juga penilaian pada akhir program. Sehingga dapat diketahui apakah tujuan atau target tertentu dalam pelayanan kesehatan dan keperawatan telah tercapai atau belum.

4. Perluasan

Perluasan merupakan pengembangan daripada kegiatan yang dilakukan, dan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :

1) Perluasan kuantitatif, yaitu perluasan dengan menambah jumlah kegiatan yang dilakukan, apakah pada wilayah setempat ataupun di wilayah lainnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

2) Perluasan kualitatif, yaitu perluasan arti meningkatkan mutu atau kualitas kegiatan yang telah dilaksanakan sehingga dapat meningkatkan kepuasan dari masyarakat yang dilayani.

Mekanisme Alih Peranan Antara Petugas dan Masyarakat.

Dalam pengorganisasian masyarakat sejak awal harus disadari oleh petugas, bahwa masyarakat harus memperoleh kesempatan belajar dan proses belajar sehingga pada akhirnya harus dapat mengambil alih peranan petugas kesehatan atau keperawatan. Oleh karena itu sejak awal keterlibatan masyarakat dalam setiap langkah kegiatan sangat diperlukan, sehingga terjadilah alih tekonologi dari tenaga profesional dan tenaga non-profesional, yaitu tenaga kesehatan dan keperawatan kepada masyarakat yang dibina untuk meneruskan kelanjutan kegiatan pembinaan. Sebab itu rencana pendelegasian wewenang secara bertahap kepada masyarakat sangat diperlukan, yang disesuaikan dengan kesiapan dan kemampuan masyarakat setempat, dan menurut Adi Sasongko adalah sebagai berikut :

Tahapan

Peranan petugas

Peranan masyarakat

1. pengenalan masyarakat

2. Pengenalan masalah

3. Penyadaran masyarakat

4. Pelaksanaan

5. Penilaian

6. Perluasan

+++

+++

++

+

+

+

+

++

+++

++++

++++

++++

KESIMPULAN

Dalam pengembangan dan pengorganisasian masyarakat, petugas kesehatan khusunya perawat kesehatan masyarakat memegang peranan penting untuk menciptakan situasi belajar mengejar tertentu yang membuat masyarakat khususnya kader kesehatan, dasa wisma memperoleh pengalaman belajar yang optimal dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir dan dengan bekal pengalaman belajar ini selanjutnya akan meningkatkan kemampuan mereka untuk dapat melaksanakan kegiatan secara mandiri tanpa tergantung kepada pihak lain. Dan bantuan dari pihak lain diperlukan kalau benar-benar dianggap perlu.

0 comments:

Poskan Komentar

Komentarnya yaa...



eXTReMe Tracker

Our Sponsor